Teeeeeettt...Teeeeeettt..Teeeeeeett...
Bel cempreng itu berbunyi tiga kali di suatu pagi di hari rabu. Damn! Malas sekali rasanya, sebab hari rabu adalah mimpi buruk bagi kami kaum ranking 10 kecil. Dengan agak-agak panik beberapa dari anak-anak 3A1.1 itu membuka buku pelajaran jam pertama untuk menghapalkan beberapa rumus dan teori. Buku tebal hijau itu pun di acak-acak untuk memperkirakan pertanyaan yang akan muncul.
tek.. tek ... tek...suara sepatu hak tinggi itu sudah terdengar menyusur lorong tengah SMAN 1 Ungaran. Aaaahh.. tidaaaakk.... setiap rabu pagi kami mendapat pressure seperti ini. Ibu guru ini selalu mengadakan ulangan di hari rabu pada jam pertama, untuk melatih skill kami di mata pelajarannya.
"Yak.. siapkan kertas", suara lembut dari seorang wanita bertubuh agak tinggi, kurus, dengan gulungan dan tusuk konde di rambutnya yang digelung. Beberapa menit kemudian kami harus memeras otak kami untuk menjawab 5 soal yang diberikannya hari itu. Rumus empiris, molekul, persenyawaan, hukum avogadro.. whatta hell! 15 menit berlalu dan nilai dari kaum 10 kecil serasa konstan. Do re mi fa sol maximal. Tapi apa pun yang terjadi, kami mencoba menyukai guru kami yang satu ini, dengan pertimbangan, dia memiliki putri yang duduk di kelas satu yang cukup layak untuk dikecengin, walaupun putra sulungnya yang kebetulan satu kelas dengan kami hampir selalu dapat dipastikan bakal uring-uringan kalau kami titip salam buat adiknya, atau untuk orang tuanya. Kadang kami pun bingung karena kami berniat baik titip salam, apa itu salah? Hehe...
Ah,.. bu guru Kimia, apa kabar mu sekarang? Masih kah murid-murid mu bengal seperti kami? Padahal niat mu untuk mengajari mereka setinggi langit, tapi kami sering merespon dengan negative. Pertemuan terakhir, rupanya bu guru sudah agak berubah, karena umur. Hampir kami tidak mengenalinya. Aaahh.. maapkan kami ya bu, kalo kami dulu tidak tau diri.
-original post : godril -
Friday, September 02, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment