Thursday, September 08, 2005

Si Bandar

"Wooo... wong edian kabeh!", keluh pendek dari pemilik suara khas, anak seoarang kyai NU itu terdengar lirih. Dia hanya melirik ke arah barisan bangku belakang ketika pak Dakir menerangkan rumus integral, dan terkesan asik konsen dengan si rangking 1. Dari bangku paling belakang deret kedua dari pintu itu, sepasang tangan sudah mengocok kartu domino. Beberapa anak di belakang mulai dari deret pertama sampai ke empat mulai memilah uang ratusan untuk dipertaruhkan. Itulah hiburan kami yang stress dengan matematika yang dalam satu minggu bisa 10 jam mata pelajaran, mencoba melewati siang itu dengan bermain samgong. Keadaan tersebut berlanjut sampai beberapa minggu kedepan, hingga kami menemukan permainan lainnya yang lebih asik. Tapi siang itu rupanya pertandingan samgong agak kolot. Si Asmen BNI ngotot kalo si bandar berbuat curang. Sementara saya di pojok deret ke empat hanya bermain empat putaran sebelum saya meneruskan mencoret-coret meja saya dengan huruf jawa dengan menggunakan tipex Affandi.

Beberapa tahun berlalu, semenjak kami meninggalkan bangku-bangku itu, beberapa meneruskan jenjang pendidikan, sebagian memutuskan bekerja, bahkan ada yang langsung ke panggung pelaminan, dan si bandar rupanya menderita sakit. Kami pun bersepakat untuk bertemu bersama dan menengok si bandar ke Ambarawa. Dengan agak sedikit kaget, ternyata keadaannya sudah demikian parah. Kami terdiam sejenak memandang jenggotnya yang lebat, badan yang hanya tulang terbalut kulit, dengan nafas yang tersengal-sengal seperti habis lari sprint 500m. "Te, kowe kok saiki koyo Wong Aksan to", kami mencoba menghiburnya. Dan ketika pulang kami dibawakan sedikit minuman keras untuk di bawa di acara gathering di rumah Dian.

Beberapa minggu berlalu, sebuah kabar membuat kita semua terhenyak. Si bandar akhirnya berpulang. Kembali kami bersepakat untuk datang lagi. Saat itu gerimis dan awan gelap memayungi di Ambarawa. Rupanya upacara requiem itu sudah selese dan kami mencoba datang ke makamnya di dekat masjid Ambarawa (apa ya nama masjidnya?).

Gundukan tanah itu basah dan agak becek tergenang air karena gerimis. Kami terdiam dan mencoba mendoakannya dalam hati masing-masing. Si bandar, si IQ tertinggi (menurut test), si bengal, sudah kembali ke perut bumi. Kami akan mencoba mengingatnya, dalam setiap permainan samgong yang kami mainkan. Met jalan ya, Te. Thanx for the games.

posted by: godril

No comments: